Fair Play untuk Demokrasi Catatan dari Piala Dunia 2026
Dian Anika Sari
Kadiv Sosdiklih Parmas dan SDM KPU Kabupaten Tegal
Peluit Awal: Saat Prediksi Berantakan
“Maaf, prediksi juara Anda sudah gugur duluan." Kalimat itu mungkin mewakili perasaan jutaan pencinta sepak bola sepanjang Piala Dunia 2026. Turnamen terbesar di dunia itu kembali mengajarkan bahwa di lapangan, reputasi hanya membuka pertandingan, bukan menentukan akhir cerita.
Babak gugur menghadirkan kejutan yang mematahkan banyak prediksi. Brasil tersingkir, Jerman harus mengakhiri langkah lebih awal, Belanda gagal melangkah lebih jauh. Maroko, Norwegia, dan Paraguay menjadi cerita yang menyegarkan sekaligus mengingatkan bahwa dalam sepak bola, kejutan selalu memiliki tempat. Namun, ketika peluit perempat final dibunyikan, panggung semifinal justru dihuni empat nama besar: Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris. Empat negara yang juga berada di jajaran teratas peringkat FIFA.
Piala Dunia 2026 akhirnya memberi kita dua pelajaran sekaligus. Pertama, siapa pun berhak bermimpi menciptakan kejutan. Kedua, untuk mencapai puncak dibutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kejutan: konsistensi, kualitas, disiplin, dan kemampuan menjaga performa di setiap pertandingan.Entah mengapa, ketika melihat semua itu, saya justru teringat pada demokrasi. Keduanya memang tampak jauh. Yang satu dimainkan di atas rumput hijau, yang lain berlangsung di ruang-ruang publik dan bilik suara. Yang satu dipimpin wasit, yang lain dijaga oleh konstitusi, lembaga penyelenggara, pengawas, serta partisipasi warga negara. Namun semakin lama diamati, semakin banyak kesamaan yang muncul. Sepak bola dan demokrasi sama-sama dibangun di atas satu prinsip yang sederhana tetapi tidak mudah dijalankan: semua orang bermain dengan aturan yang sama.
Tidak Ada Tim yang Menang Sebelum Bermain
Salah satu alasan mengapa miliaran orang mencintai sepak bola adalah karena olahraga ini selalu menyediakan ruang bagi kejutan. Dalam dunia balap, mobil tercepat hampir selalu menang. Dalam dunia catur, pemain dengan peringkat jauh lebih tinggi biasanya lebih diunggulkan. Namun sepak bola mempunyai logikanya sendiri. Tim kecil bisa mengalahkan raksasa. Pemain muda bisa menjadi penentu kemenangan. Satu gol di menit ke-90 dapat menghapus dominasi lawan selama hampir satu pertandingan penuh.
Piala Dunia 2026 sekali lagi membuktikan hal itu. Maroko kembali menjadi simbol bahwa mimpi tidak mengenal peringkat FIFA. Norwegia menunjukkan bahwa kerja sama sering kali lebih berbahaya daripada sekadar kumpulan pemain bintang. Paraguay mengajarkan bahwa keberanian kadang cukup untuk mengubah sejarah.
Bukankah demokrasi juga demikian?
Dalam demokrasi, tidak ada warga negara yang otomatis lebih penting hanya karena memiliki jabatan, kekayaan, atau jutaan pengikut di media sosial. Suara seorang petani di desa memiliki nilai yang sama dengan suara seorang profesor di kampus. Pilihan seorang pemilih yang baru pertama kali datang ke TPS dihitung sama dengan pilihan seorang menteri. Di balik bilik suara, semua kembali menjadi warga negara yang memiliki hak yang setara: satu orang, satu suara.
Ilmuwan politik Robert A. Dahl menyebut prinsip itu sebagai political equality atau persamaan politik. Demokrasi hanya akan bermakna apabila setiap warga negara memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam menentukan arah kehidupan bersama. Hak memilih, hak memperoleh informasi, dan hak menyampaikan pendapat bukanlah hadiah dari negara, melainkan fondasi yang membuat demokrasi tetap hidup.
Dalam sepak bola, semangat itu dikenal sebagai fair play: setiap tim bermain dengan aturan yang sama, berusaha menang tanpa mengabaikan sportivitas, dan menerima hasil pertandingan dengan lapang dada. Demokrasi pun memiliki semangat yang serupa. Aturan yang adil, kesempatan yang setara, serta kesediaan menghormati hasil merupakan fondasi agar demokrasi tetap dipercaya oleh semua pihak.
Sebagai bagian dari penyelenggara pemilu, saya semakin menyadari bahwa tantangan terbesar demokrasi bukan sekadar menyusun aturan yang baik, melainkan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap aturan itu. Sebab ketika semua pihak bersedia menghormati proses, hasil akhirnya—apa pun bentuknya—akan lebih mudah diterima sebagai bagian dari permainan yang adil.
Karena itu, demokrasi sesungguhnya lebih mirip Piala Dunia daripada yang kita bayangkan. Tidak ada negara yang otomatis menang hanya karena pernah mengangkat trofi. Tidak ada peserta yang langsung kalah hanya karena datang tanpa status unggulan. Setiap pertandingan dimulai dari skor 0-0. Setiap pemilu dimulai dari kesempatan yang sama. Sisanya ditentukan oleh bagaimana permainan dijalankan.
Dari Stadion ke Linimasa
Ada satu hal yang berubah drastis dibandingkan Piala Dunia dua puluh tahun lalu. Dulu, setelah pertandingan usai, perdebatan hanya terjadi di warung kopi atau ruang tamu. Hari ini, pertandingan bahkan belum selesai ketika jutaan komentar sudah membanjiri media sosial. Belum peluit panjang dibunyikan, sudah muncul ribuan pelatih dadakan. Belum wasit meniup peluit, sudah ada hakim garis versi kolom komentar.
Belum keputusan resmi keluar, sudah ada "sidang Mahkamah Netizen" yang menjatuhkan vonis tanpa banding. Kadang saya membayangkan, seandainya pelatih tim nasional membaca seluruh komentar di media sosial sebelum menentukan susunan pemain, mungkin pertandingan tidak akan pernah dimulai. Semua merasa memiliki formasi terbaik. Ada yang yakin tahu siapa yang pantas bermain, ada pula yang begitu percaya dirinya menjadi analisis dadakan. Lucunya, sebagian besar komentar itu ditulis sambil rebahan.
Fenomena itu bukan sesuatu yang buruk. Demokrasi justru membutuhkan warga yang berani berbicara. Masalah muncul ketika keberanian berbicara tidak diiringi kerendahan hati untuk mendengar. Di sinilah kita memasuki babak berikutnya. Babak ketika pertandingan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak dari tribun, melainkan oleh siapa yang paling bersedia memeriksa fakta sebelum mengambil kesimpulan.
Di era media sosial, tantangan demokrasi bukan lagi sekadar memastikan setiap orang bisa berbicara. Tantangan yang jauh lebih besar adalah memastikan setiap orang mau memeriksa kebenaran sebelum membagikan informasi. Satu unggahan yang keliru dapat menyebar lebih cepat daripada klasifikasinya. Karena itu, literasi digital bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara yang ingin menjaga ruang demokrasi tetap sehat.
Semakin lama saya terlibat dalam pendidikan pemilih, semakin saya meyakini bahwa kualitas demokrasi sesungguhnya dibangun jauh sebelum hari pemungutan suara. Ia tumbuh dari kebiasaan sederhana: menghargai perbedaan, memeriksa fakta sebelum percaya, dan menerima hasil dengan lapang dada meski tidak selalu sesuai harapan. Mungkin karena itulah, setiap kali menyaksikan pertandingan sepak bola, saya selalu merasa sedang melihat cermin kecil, tentang bagaimana demokrasi seharusnya dijalankan.
Cepat atau lambat, Piala Dunia 2026 akan berakhir. Trofi akan berpindah tangan, selebrasi akan usai, dan sorak-sorai stadion perlahan menjadi kenangan. Namun nilai yang ditinggalkannya tidak ikut berakhir bersama peluit panjang.
Piala Dunia mengajarkan bahwa setiap pertandingan harus dimulai dengan kesempatan yang sama. Bahwa kualitas dibuktikan melalui proses, bukan sekadar reputasi. Bahwa aturan harus dihormati, dan lawan tetap layak dihargai meski berdiri di sisi yang berbeda.
Bukankah demikian pula demokrasi seharusnya bekerja? Demokrasi bukan hanya tentang siapa yang menang. Demokrasi adalah memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi, setiap suara dihitung dengan adil, dan setiap perbedaan disikapi dengan saling menghormati.
Sebab pada akhirnya, kemenangan terbesar dalam demokrasi bukanlah ketika calon yang kita dukung memperoleh suara terbanyak. Kemenangan sesungguhnya adalah ketika semua pihak tetap percaya pada aturan permainan, menghormati hasilnya, dan bersama-sama menjaga agar pertandingan berikutnya dapat kembali dimainkan secara jujur, damai, dan bermartabat. Mungkin itulah pelajaran paling berharga yang dapat kita bawa pulang dari setiap Piala Dunia. Bahwa yang membuat sebuah pertandingan dikenang bukan semata-mata siapa yang mengangkat trofi, melainkan bagaimana permainan itu dijalankan. Demikian pula dengan demokrasi. Sejarah tidak hanya akan mengingat siapa yang menang, tetapi juga apakah kita mampu menjaganya tetap menjadi arena yang adil, bermartabat, dan memberi harapan bagi setiap warga negara.